Selasa, 08 Maret 2011

Keluarga Budiman

sumber oleh Puspita Dewi
Adalah seorang bapak bernama Budiman (bukan nama asli). Suatu hari pak Budiman pergi bersama istri dan putrinya berbelanja ke supermarket. Sesampainya di halaman supermarket, mereka dihampiri seorang nenek tua yang menggandeng gadis cilik yang kemungkinan adalah cucunya.

Nenek itu mengulurkan tangan meminta belas kasihan. Keluarga Budiman memandangi mereka beberapa saat. Kemudian dengan raut wajah tidak senang, Bu Budiman mengambil uang seribuan lalu diberikannya kepada si nenek. Tapi rupanya nenek itu merasa belum cukup. Dia lalu menguncupkan jari-jarinya dan memberi isyarat menyuapkan tangan ke mulutnya dan mulut cucunya seakan hendak mengatakan, "kami belum makan, uang sekian tidak cukup untuk makan kami berdua." Tapi Bu Budiman tidak pedulikan itu. "Ah.., sudah..sudah..!" sambil marah Bu Budiman pergi menggandeng putrinya lalu masuk ke dalam supermarket untuk berbelanja. Sedangkan Pak Budiman masih berdiri memandangi nenek itu. Dia merasa kasihan kepada nenek bercucu tesebut. Akhirnya, Pak Budiman pergi ke ATM. Dia ingat hari itu biasanya dia mendapat bonus besar dari perusahaan tempat dia bekerjasama. Pak Budiman berencana ingin memberi selembar seratus ribuan kepada nenek itu.

Sesampainya di depan ATM, betapa terkejutnya Pak Budiman. Ternyata bonus yang masuk di luar dugaan. Jumlahnya banyak sekali sampai puluhan juta. Pak Budiman geleng kepala melihatnya. Dia betul-betul tidak menyangka. Lalu diambilnya beberapa lembaran merah untuk dimasukkannya ke dalam dompet dan segera berjalan menuju nenek tadi. Pak Budiman membuka dompet hendak mengambil selembar ratusan ribu. Tapi rupanya tersembul lembaran ungu yang tadi sempat terselip. Niat memberi seratus ribu berubah menjadi sepuluh ribu. Akhirnya Pak Budiman sedekah sepuluh ribu kepada nenek itu.

Alangkah senangnya si nenek. Dengan penuh rasa syukur, nenek yang semula banyak diam dan hanya berisyarat, akhirnya mengucapkan, "Alhamdulillaah..alhamdulillaah..alhamdulillaah..terima kasih Pak. Semoga keluarga Bapak dilapangkan rizqinya, dijadikan rumah tangganya selalu rukun dan bahagia, serta sekeluarga Bapak masuk syurga bersama-sama." Lalu nenek itu pun berlalu bersama cucunya masuk ke warung makan.

Pak Budiman hanya terpaku. Tak sepatah kata pun dapat terucap dari mulutnya. Air mata pun mengalir di kedua pipinya.Hingga tak disadari, istri dan putrinya sudah ada di samping dengan membawa belanjaan yang sangat banyak. "Papa ngapain sih koq melamun aja? Ngapain bengong di situ? Mending bantuin mama nih bawaannya banyak.. Pa..! Lho, Pa..! Papa nangis? Ada apa sih, Pa, koq nangis?" tanya istrinya memberondong.

"Ma, tadi papa kasihan sekali sama nenek pengemis. Papa akhirnya ke ATM ambil uang bonus dan ngasih pengemis itu uang sepuluh ribu." Papa mulai bicara. "Haa..h..Papa ngasih dia sepuluh ribu? Huh..dasar papa!" "Dan tahukah, Ma? Nenek itu bersyukur sekali sampai dia mendoakan kita supaya rizqinya lapang, rumah tangga kita rukun dan bahagia, serta kita sekeluarga masuk syurga bersama-sama. Bahkan nenek itu sempat mengucapkan alhamdulillah tiga kali. Sedangkan Papa hanya dapat geleng-geleng kepala sewaktu melihat transferan uang puluhan juta di ATM tanpa ada kata syukur sedikit pun. Lalu, siapa yang lebih pantas masuk syurga, Ma? Kita atau nenek itu?" Mama hanya terdiam terpaku dan membisu. Mereka merenungi kejadian yang baru saja terjadi..

(Semoga kisah di atas bisa menjadi pelajaran bagi kita. Terlepas kisah di atas nyata atau tidak, insya Alloh banyak kisah-kisah serupa dengan keluarga Pak Budiman maupun nenek tua tadi ada di sekitar kita. Wallohu a'lam. Semoga kita dapat menjadi hamba Alloh yang bersyukur. Aamiin..)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar