Selasa, 08 Maret 2011

Beginilah Pemuda Muslim Seharusnya



Entah mengapa setiap kali kata pemuda disebut, hampir semua orang merasa dirinyalah yang dimaksud. Tidak sedikit orang yang marah jika dirinya disebut tidak muda lagi. Orang yang tergolong tua sekalipun tidak mau kalah dalam hal ini. Subhanallah, ajaib. Ada apa gerangan dengan usia muda?

Tidak diragukan lagi, para pemuda memiliki peran yang sangat penting dalam tatanan kehidupan manusia secara umum dan masyarakat  muslim secara khusus. Sebab, jika mereka adalah para pemuda yang baik dan terdidik dengan adab-adab Islam maka merekalah yang akan menyebarkan dan mendakwahkan kebaikan Islam serta menjadi nakhoda ummat ini. Merekalah yang diharapkan akan mengantarkan ummat kepada kebaikan dunia dan akhirat. Hal ini dikarenakan Allah subhanahu wa ta’aalaa telah memberikan kepada mereka kekuatan badan dan kecemerlangan pikiran untuk dapat melaksanakan semua hal tersebut. Berbeda halnya dengan orang yang sudah tua, walaupun para orang tua melampaui mereka dari sisi kedewasaan dan pengalaman, tetapi faktor kelemahan jasad -kebanyakannya- membuat para orang tua tidak mampu mengerjakan apa yang bisa dikerjakan oleh para pemuda.

Intinya, usia muda adalah usia yang spesial, memiliki banyak kekhususan dan keistimewaan. Olehnya itu, pemanfaatan usia muda juga harus dipertanggungajawabkan secara khusus. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Tidak akan beranjak kaki anak Adam pada Hari Kiamat dari sisi Rabbnya sampai dia ditanya tentang 5 (perkara) : Tentang umurnya dimana dia habiskan, tentang masa mudanya dimana dia usangkan, tentang hartanya dari mana dia mendapatkannya dan kemana dia keluarkan dan tentang apa yang telah dia amalkan dari ilmunya”. (HR. At-Tirmizi)

Perhatikanlah, ‘masa muda’ disebutkan secara khusus padahal sebelumnya telah disebutkan ‘umur’ yang kita pahami telah ter-include di dalamnya ‘masa muda’. Ini menunjukkan bahwa ‘masa muda’ merupakah salah satu nikmat terbesar yang secara khusus akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah subhanahu wa ta’aalaa.

Karakteristik Pemuda Islam
Seperti yang telah disebutkan di awal, Pemuda adalah sosok  spesial. Dengan segudang kemampuan yang mereka miliki, para pemuda dapat melakukan hal-hal yang luar biasaSejarah mencatat, para pemuda telah sering tampil sebagai actor utama dalam berbagai moment besar. Namun, tidak cukup hanya dengan kemampuan, pemuda harus di lengkapi dengan sesuatu yang istimewa pula, yaitu karakter. Sebagai pemuda muslim, tentu yang kita inginkan adalah karakter pemuda muslim sejati. Sebagaimana yang dimilki para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in dari kalangan pemuda. Karakter apa yang dimaksud? Berikut perinciannya;

1.   Memahami Syari’at Islam
Pemuda muslim wajib memahami Islam dengan benar. Untuk mengerti agama ini, pemuda Muslim harus memahami Islam dengan pemahaman yang murni dan bersih seperti yang dipahami generasi awal ummat Islam, para salafush shalih.Banyak orang yang “menzhalimi” Islam dengan memasukkan ke dalam Islam hal-hal yang tidak berasal dari Islam dan mengeluarkan darinya apa yang termasuk ajarannya. Lebih mengkhawatirkan lagi jika yang dikeluarkan itu adalah ajaran yang prinsipil. Begitu banyak perkara aneh dan asing yang dimasukkan dalam agama ini padahal ia bukan dari ajaran Islam. Ajaran-ajaran seperti ini telah merusak keindahan Islam dan mengotori kejernihannya. Padahal  Allahsubhanahu wa ta’ala telah menyempurnakan agama ini. Allah subhanahu wa ta’alaberfirman, “Hari ini Aku telah sempurnakan agamamu bagimu. Dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku atasmu. Dan Aku telah ridhai Islam sebagai agamamu”. (QS. Al-Maaidah : 3)

Untuk mengerti dan memahami Islam para pemuda Muslim harus menimba Ilmudari sumbernya yang jernih dengan kembali kepada Kitabullah dan SunnahRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sesuai dengan pemahaman shalafush shalih.

2.   Beramal/bekerja dengan didasari dengan keimanan/aqidah yang benar
Apakah cukup bagi pemuda Muslim hanya sekadar mengetahui, membaca, meneliti sehingga kepalanya penuh dengan ilmu lalu tidak ada lagi aksi sesudahnya? Tentu saja tidak. Islam menghendaki pengetahuan dan pengertian yang menembus ke lubuk hati sekaligus menggerakkannya untuk beramal.

Yang diinginkan oleh Islam adalah kebaikan  yang melahirkan perasaan takut kepada Allah subhanahu wa ta’aalaa dan rasa takut itu tidak lain membuahkan amal shalih. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam pernah memohon dalam doabeliau“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung padaMu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari amal yang tidak diterima, dan dari  doa yang tidak dikabulkan”. (HR. Muslim)

Seorang pemuda Muslim, setelah ia mempelajari Islam dan memahaminya dan menjadi contoh dalam kehidupan maka orang-orang yang melihatnya akan berkata, ”Lihatlah, betapa indah ajaran Islam, alangkah bagusnya adab Islam, alangkah mulianya akhlak Islam!” Dengan begitu satuan-satuan ajaran Islam teraplikasi dalam tingkah laku perbuatan.

Di Korea Selatan, Islam masuk melalui pergaulan dan pengaruh. Pada mulanya di sana ada tentara-tentara Muslim Turki yang bertugas pada perang Korea. Pada saat-saat tertentu orang Korea melihat para tentara Turki pergi bersuci dengan membasuh muka, tangan dan kaki, lalu berbaris dengan khusyu’, tertib dan teratur. Melihat pemandangan itu mereka bertanya, “Siapakah kalian?” Mereka menjawab, “Kami adalah orang-orang Islam.” Mereka bertanya lagi, ”Apakah Islam itu?” Lalu diperkenalkanlah Islam itu kepada mereka sesuai dengan pengetahuan  yang dimiliki oleh tentara Turki Muslim itu. Setelah itu masuklah ke dalam Islam beribu-ribu orang Korea karena adanya keteladanan yang sangat bagus tersebut. Subhanallah.

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?’” (QS. Fushshilat : 33)

3.   Senantiasa mengajak kepada kebaikan
Tidak cukup hanya dengan shalih secara pribadi. Tetapi Pemuda Muslim seharusnya berpikir agar orang lain  bisa menikmati manisnya iman dan Islam. Seorang muslim sejati selalu merasa tidak puas jika menikmati keshalihannya sendirian.Bukti keislamannya mewujud dalam kepedulian tehadap orang-orang yang belum teterangi oleh cahaya Islam.

Mengajak kepada kebaikan dan kebenaran (Islam) adalah tugas yang berat dan besar. Namun ini adalah tugas mulia dan utama yang sangat perlu diperhatikan.Sebab,kita hidup  pada zaman dimana sudah banyak manusia yang berpaling dari kebenaran. Banyak orang yang meninggalkan agamanya.Dunia seolahmemalingkan mereka dari mengingat Allah, banyaknya penghambat kebaikan serta banyaknya sarana-sarana yang memalingkan anak cucu Adam dari agama Allah.Semua fenomena ini hendaknya menghentak naluri keimanan para pemuda muslim untuk mewariskan kebaikan dan kesalehannya kepada sesama manusia.

Karenanya, tugas mengajak manusia ke dalam Islam ini adalah tugas yang tidak mudah dan ringan. Mereka yang mencoba hidup sesuai ajaran Islam tidak jarangdianggap aneh bahkan dituduh dengan tuduhan yang membunuh karakter mereka. Sementara itu, mengambil sikap diam dan membiarkan jauhnya ummat dari Islam bukanlah sikap yang terpuji. Dengan begitu, sudah seharusnya setiap Pemuda Muslim membulatkan tekad agar tetap berpegang teguh pada Islam dan menyeru orang lain meski banyak tantangan yang datang dari berbagai arah.Setiap orang yang menjadi juru dakwah haruslah bersabar karena demikianlahtabiat mengajak kepada kebenaranTidak mudah namun cukuplah Allahsubhanahu wa ta’aalaa sebagai satu-satunya pemberi balasan yang sempurna dari setiap amalan-amalan kita. Luqman al-hakim berkata pada anaknya dalam firman Allah, “Wahai anakku dirikalah shalat, serulah kepada yang ma’ruf dan cegahlah dari kemungkaran, dan sabarlah dari apa yang menimpamu.” (QS. Luqman : 17)

Pada ayat yang lain, Allah subhanahu wa ta’aalaa berfirman, “Dan Katakanlah: ‘Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. At-Taubah : 105)

4. Ber-ukhuwah dan Tolong-menolong
Sebagai pemuda muslim, hendaknya senantiasa  saling menasehati  dan menyeru orang lain kepada Islam.  Hendaklah para pemuda melengkapinya dengan sikap tolong-menolong di antara sesamanya dan memiliki rasa saling terikat/ukhuwah.

Dengan Islam yang benar, akan diraih ikatan persaudaraan antara satu dengan yang lain. Ikatan persaudaraan yang didasari rasa saling mencintai karena Allahsubhanahu wa ta’aalaa , saling mengunjungi karena-Nya, serta bersama-samamengajak dalam kebenaran dan kebaikan karena Allah. Tanpa ini semua kita tidak mungkin melaksanakan tugas dan beramal dengan baik sebab tangan itu kalau hanya sebelah tidak mungkin mampu saling bertepuk. Allah berfirman,

"Orang kafir itu sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (wahai kaum Muslimin) tidak melaksanakan apa yang diperintahkan itu niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar".(QS. Al-Anfaal : 73)

Di zaman dimana kekuatan kebathilan saling bersatu padu untuk menyingkirkankebenaran bahkan menghancurkan eksistensinya, sudah sepantasnya jika para pemuda Islam untuk bersatu, bergandengan tangan menghadapi musuh-musuhAllah subhanahu wa ta’aalaa. Jika perbedaan yang ada ditengah-tengah ummat ini masih bisa ditolerir, maka hendaknya mereka saling berlapang dada. Tetapi jika perbedaan itu pada persoalan-persoalan yang prinsipil dan mendasar, maka mengedepankan sikap tanashuh (saling menasehati dalam kebenaran) adalah jalan yang paling tepat disaat kita menghadapi musuh dari berbagai arah.Pemuda Islam adalah pemuda yang kuat dan tangguh –insyaAllah–, ketika kekuatan pemuda tersebut dipadukan dengan kakuatan iman kepada AllahSunhanahu Wa Ta’ala, tidak mustahil bagi kita untuk memperbaiki dan menciptakan tatanan masyarakat yang lebih baik kedepannya.

5.   Tidak Tasyabbuh (Menyerupai) Orang Kafir
Tasyabbuh adalah penyakit sekaligus aib bagi Pemuda Muslim. Bagaimana tidak, larangan melakukannya telah gambalang dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Termasuk tasyabbuh jika seorang Muslim ikut serta dalam perayaan hari-hari raya mereka, diantaranya Natal, Tahun Baru, dan yang tidak lama lagi menyusul yaituValentine Days.

Demikianlah beberapa karakter yang harus dimiliki Pemuda Muslim. Semoga Allah memberikan taufik untuk mengamalkannya. Wallahu ‘Alam.

Sumber
  • http://www.al-ikhwan.net/
  • Al-Balagh edisi 52 (http://www.wahdah.or.id/)
  • http://al-atsariyyah.com/pemuda-dalam-islam.html
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar